Tampilkan postingan dengan label Autisme. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Autisme. Tampilkan semua postingan

Terapi Perilaku dan Bicara Pada Anak Dengan Gejala Autis

Tatapan Mata Ibu Kurangi Risiko Bayi Derita Autis

Autis muncul karena ada kelainan pada sistem komunikasi. Ini berkaitan dengan perkembangan komunikasi sosial pada otak. Jika disadari sejak awal, maka dapat diterapkan pola komunikasi sosial yang tepat sehingga gejala dan perkembangan autis dapat ditekan sedikit mungkin. 

Kontak mata sebanyak mungkin dengan bayi yang berisiko tinggi menyandang autis, amat sangat dianjurkan kepada orangtua, terutama jika sebelumnya telah memiliki anak autis. Hal itu tidak sekadar anjuran, melainkan dengan dukungan penelitian pada 200 bayi yang mempunyai saudara sekandung autis. 

Di Amerika Serikat, setiap satu dari 150 bayi lahir menyandang autis. Persentasenya menjadi lebih tinggi yakni satu dari 20 bayi baru lahir, jika salah satu kakaknya mempunyai autis. 

Semua bayi itu dimonitor oleh para ahli, dibagi dalam kelompok usia 6, 12, dan 24 bulan. Setengah dari para ibu dilatih teknik tertentu untuk 'menangkap' komunikasi yang disampaikan oleh bayinya. Para ibu itu juga dilatih menarik perhatian bayi, ketika mereka keasyikan sendiri. Dengan mengeluarkan suara pelan berirama serta bertatapan mata. Ini diyakini dapat mempermudah bayi belajar mengenal bahasa. 

Tentunya diharapkan para oarangtua ada ketika bayi meraih mainan dan mencari keberadaan orangtuanya melalui tatapan matanya, orangtua mesti benar-benar hadir ketika bayi memasuki dunianya dan tengah mencari tahu apa yang mesti dilakukan selanjutnya. Ihwal berguman, memainkan nada suara, kontak mata dan model interaksi lainnya antara orangtua terutama ibu dan dengan bayi, diyakini dapat menekan derajat perkembangan autis. 

Namun pada bayi yang terlahir dari orangtua yang sebelumnya telah melahirkan anak autis, orangtua tidak punya pilihan lain kecuali menunggu dengan harap-harap cemas akan nasib buah hatinya. Sayangnya, sampai saat ini seperti diakui Prof Estes, belum ada metode yang tepat untuk membantu orangtua yang memiliki anak autis melewati masa-masa sulit.

- Read More -

Hubungan Autiseme dan Jarak Kelahiran

Dalam sebuah artikel di jurnal Pediatric, anak kedua yang dikandung dalam setahun kelahiran saudara mereka yang lebih tua, tiga kali lebih mungkin terdiagnosa autisme daripada saudara yang dikandung dalam waktu lebih dari tiga tahun, setelah saudara mereka dilahirkan.

Peneliti melihat catatan bayi yang lahir di California antara tahun 1992 dan 2002 dan meneliti kemungkinan autisme lebih dari 660.000 anak-anak yang kedua. Mereka menemukan, kehamilan yang lebih lanjut, cenderung lebih rendah berisiko autisme pada anak kedua jika jaraknya lebih dari tiga tahun.

Dibandingkan dengan anak yang dikandung lebih dari tiga tahun setelah saudara tertua mereka dilahirkan, anak yang dikandung 12 bulan hingga 23 bulan setelah kelahiran sebelumnya, dua kali lebih mungkin terdiagnosa autisme dan anak yang dikandung setelah 24 bulan hingga 35 bulan adalah satu hingga seperempat lebih mungkin terdiagnosa.

Penulis penelitian ini mengaku tidak tahu mengapa waktu kehamilan dan autisme dihubungkan, tetapi mereka menyarankan beberapa faktor yang mungkin dapat disalahkan, meskipun mereka tidak mengujinya. Beberapa penyebab yang dimungkinkan adalah tingkat nutrisi yang habis, seperti folat dan besi, dan tingkat stres yang lebih tinggi. Hasil yang dicatat berat lahir rendah, kelahiran prematur, dan usia orangtua, artikel itu mengatakan.

Temuan ini sangat penting karena jumlah bayi yang lahir dalam waktu dua tahun dari saudara mereka meningkat, naik dari 11 persen pada tahun 1992 menjadi 18 persen pada tahun 2002.

Sebelum adanya penelitian seperti ini, al-Quran pernah mengingatkan dalam Surat Al-Baqarah: 233, yang artinya berbunyi: “Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf…”

Ayat ini, diyakini sebagai batasan melahirkan dalam Islam. Di mana sekurang-kurangnya dua tahun setelah kelahiran saudara tertua.
Sumber : hidayatullah

- Read More -