Tampilkan postingan dengan label Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anak. Tampilkan semua postingan

Childhood Obesity Problems

We’ve been lead to believe that avoiding childhood obesity is complicated and time-consuming, requiring a team of nutritionists, fitness experts, educators and even private investigators to ensure our children do as they’re told.

Professor Gary Egger of Deakin University and author of a number of books including “Gut busters” says the problem is we and our children are getting fatter. In the last 20 years Australians have been putting on weight at the rate of one gram a day. But we eat less than our grandparents did, so why all that extra weight? 


Prof Egger believes technology is primarily to blame. We have so many gadgets to do things for us that we have become lazy. In fact, we are using 800 calories less energy every day than we did in 1970.

“I don’t think the human body is ready for the technological revolution,” Prof Egger said.

Social factors are also contributing to this general slow down of movement, right from a child’s earliest years. Parents are more reluctant to let their children play too far from the home. Very often, a child’s world is limited to the house and a small backyard.

And the television and home computer appear to be nudging out tree climbing and other outdoor activities on the most favoured pastimes list. 

Prof Egger says the evidence suggests that watching television actually slows down our metabolism, making it harder to burn off the extra calories. The snack food advertisements on TV and the fast food culture are all adding to our growing girths too.

The good news is we don’t have to give up all our favourite foods and we don’t have to eat less. In fact, we can eat more, providing we eat differently, Prof Egger says. It is the high fat foods, the chips and peanuts, that we eat that make us put on weight. He suggests we increase our intake of raw fruit and vegetables and increase our physical activity.

Prof Egger isn’t suggesting we throw away our computers and techno games, after all that’s part of what’s making this century so interesting, all he’s suggesting is that we balance it all out. 

Sure your child can spend an hour on the computer, watching TV or playing video games but then make sure he/she is spending at least an hour running around kicking a ball, climbing trees, swimming, bike riding, playing chasings, rumbling, jumping on a trampoline or another fun, active game.

Prof Egger isn’t suggesting your child never eats ice creams or lollies, he’s just suggesting that those empty calories are just a very small part of a diet loaded with raw fruit, vegetables, nuts (where appropriate) and seeds, grains, lean meat.

Prof Egger suggests you educate your child about healthy eating, include them in food preparation wherever possible (most mums would be happy with that) and educate them on the healthful benefits of regular exercise.

The key message to all children and parents needs to be that we all need to balance out our calorie intake and energy output and make sure we have fun with both. ( By Ute Fumezux at www.child-educational-toys.com )

- Read More -

Jangan Biasakan Bayi Tidur di Gendong Atau Diayun

Hati-hati, lo, membiasakan bayi tidur dalam gendongan atau diayun. Soalnya ia kelak tak punya percaya diri.Tidur dalam gendongan atau ayunan, pastilah amat nyaman dan menyenangkan.makanya si kecil jadi lelap dan mudah tidur. Itu sebabnya, banyak ibu menidurkan bayinya dengan cara digendong atau diayun. Padahal, sebenaya para ibu tak perlu bersusah payah seperti itu. Seperti dikatakan dr. Kishore R.J., Sp.A, Mau tak mau, bayi akan tidur dengan sendirinya, kok, tanpa harus digendong atau diayun. Sebab, jelas, dokter spesialis anak dari RSIA Hermina Podomoro ini, tidur merupakan kebutuhan dasar manusia, termasuk bayi.

Jadi Tak Percaya Diri

Justru kalau si bayi biasa digendong atau diayun kala hendak tidur, menurut Kishore, bisa-bisa ia jadi tergantung. Kalau nggak digendong atau diayun, ia akan rewel, tidak mau tidur. Memang diakui Kishore, cara-cara tersebut bisa membuat bayi lebih cepat tidur. Tapi di sisi lain, kita juga harus memikirkan dampak buruknya bagi si bayi. Selain jadi tergantung, akibat lebih jauhnya pada pola pertumbuhan berikutnya adalah kepercayaan diri anak bisa hilang. Ia bisa jadi anak yang tak PD (percaya diri). 

Jangan Biasakan Bayi Tidur di Gendong Atau Diayun

Yang lebih berbahaya adalah bila ibu memiliki kebiasaan menidurkan bayi sambil menyusui. Ini memang akan membuat bayi merasa aman dan nyaman. Tapi bahayanya kalau ibu ketiduran, entah karena capek atau mengantuk, hidung si bayi bisa tertindih tubuh ibu. Akibatnya ia tak bisa bernafas, terang Kishore.

Jadi, anjur Kishore, jangan biasakan bayi tidur dengan cara dimanipulasi seperti diayun atau digendong. Biarkan bayi tidur secara alamiah. Di rumah sakit pun, setelah lahir, ia bisa tidur sendiri tanpa diayun atau digendong, Nah yang biasa terjadi, setelah satu minggudi rumah, kadang si ibu mengeluh, Dok, anak saya susah tidur. Menurut Kishore, itu disebabkan di rumah si bayi sudah biasa ditidurkan dengan digendong atau diayun.

Tidak Capek

Yang harus dipahami, terang Kishore, bayi - bayi umumnya akan tidur sendiri bila ia sudah merasa kenyang, terutama pada bayi yang baru lahir. Biasanya ini berlangsung sampai bayi berusia 2-3 bulan. Setelah usia 3 bulan, di samping perutnya tidak lapar, bayi juga akan tidur dengan sendiri bila ia sudah capek bermain. 

Jangan lupa, di usia ini bayi mulai memberi respon terhadap lingkungan sekitaya. Lingkungan merupakan barang baru baginya. Ia ingin menjelajah ke mana-mana. Tapi kalau lingkungannya itu-itu saja, si bayi akan bosan dan ia akan jadi rewel. 

Apalagi jika ia sering digendong, sehingga tak punya kesempatan untuk braktivitas fisik. Akibatnya, ia tak merasa capek, sehingga akan lebih sulit tidur, tutur Kishore. Mulai usia 6 bulan ke atas, lain lagi persoalannya. Ada beberapa faktor yang bisa membuatnya susah tidur, ujar Kishore. Di antaranya, pengalaman pada siang hari. Misal, sehabis jatuh atau muntah setelah makan sesuatu. Ini akan mambuat bayi trauma

Contoh lain, bayi diajak bermain terlalu lama, sehingga ia masih terbayang. Ada dua kemungkinan yang bisa terjadi, ia takut atau malah kembali minta diajak melakukan permainan yang sama, Penyebab lain, si bayi mungkin merasa takut ditinggal, terutama oleh ibu. Atau, seperti yang sudah diutarakan di atas, ia masih merasa lapar. Semua itu mengganggu bayi, sehingga membuatnya susah tidur, tukas Kishore. 

Selain itu ada pula masalah perubahan lingkungan. Misalnya, si bayi biasa tidur di kamar ber-AC atau menggunaksn kipad angin, tentu akan gelisah. Begitupun sebaliknya. Karena ia belum beradaptasi dengan suasana yang baru, terang Kishore. Bahkan tempat tidur berubah pun, tak jarang membikin si bayi rewel. Ia akan merasa asing. Biasanya terjadi pada bayi sampai usia 6- 7 bulan. Namun akan berubah sesuai pertambahan usia. Karena itu saran Kishore, janganlah ibu sebentar sebentar menggendong si bayi hanya karena mau anaknya segera tidur. Cari dulu penyebabnya kenapa ia rewel, susah tidur. Jangan buru-buru digendong atau diayun.

Keadaan Tertentu

Begitupun bila bayi terbangun dan menangis. biasanya bayi terbangun darena 3 hal, yaitu lapar, takut tak ada teman di sampingnya, dan ada sesuatu yang tak mengenakkan semisal sakit atau buang air. Nah, tangisannya itu untuk memberikan informasi kepada si ibu atau pengasuhnya bahwa ada sesuatu yang terjadi padanya. 

Jadi, periksa dulu kondisi bayi. Misalnya, kalau ia terbangun lantaran pipis, segeralah ganti popoknya. Atau bila ibu ingin si kecil tak terganggu tiduya lantaran mengompol, bisa dipakaikan diapers. Namun pemakaian diapers memiliki risiko, yakni kemungkinan timbul iritasi pada kulit bayi, ujar Kishore.

Karena itu perhatikan betul jenis diapers-nya maupun tingkat kepekaan kulit bayi ibu. Tak jarang si kecil terbangun dan menangis lantaran mengalami mimpi buruk. berdasarkan penelitian, bayi memiliki fluktuasi gambaran seperti mimpi. Masalahnya, kita, kan nggak mungkin menanyakan langsung kepada si bayi. Kita hanya bisa mengetahui dari tangisannya yang keras dan biasanya ia juga menjadi rewel, terang Kishore. 

Nah, kalau bayi rewel lantaran mimpi buruk atau sakit, bolehlah ibu menggendongnya untuk membuatnya merasa nyaman. Bayi-bayi yang demikian memang membutuhkan teknik pendekatan tersendiri. Entah dengan digendong atau diayun, karena mereka membutuhkan rasa aman, lanjut Kishore. 

Namun begitu, Kishore mengingatkan agar hal tersebut dihilangkan sedikit demi sedikit untuk mencegah si bayi jadi tergantung. Nanti ia tak akan tidur kalau tak digendong atau diayun, tukasnya. Khusus untuk bayi yang sakit, selain memberinya perasaan aman, tentulah ibu harus mengobati penyakitnya. Kalau tidak, Meskipun ibu sudah menggendong atau mengayunnya dengan cara apa pun, ia akan tetap rewel dan susah tidur. Soalnya, ia tetap merasa tidak enak akibat rasa sakit tersebut.

Mengubah Pola

Tak jarang bayi rewel hanya karena ingin ditemani. Biasanya ini berkaitan dengan pola tidur, khususnya pada bayi baru lahir, terang Kishore. Sebab, bayi baru lahir tak tahu kapan harus tidur dan kapan harus bangun. Sering terjadi, sepanjang pagi dan siang ia tidur dan terjaga serta rewel pada malam harinya. Nah, rewelnya ini lebih sering bukan lantaran sakit atau lapar, tapi minta ditemani. Dalam hal ini, anjur Kishore, ibu harus mengubah pola tidur si kecil. Bila siang hari ia tidur, sebaiknya dibangunkan. Jadi, malamnya gampang tidur. 

Nah, selain melatih pola tidur anak, ibu pun bisa istirahat. Memang, bisa saja si bayi justru jadi rewel karena dibangunkan. Tak apa-apa. Toh, nanti ia tak rewel lagi kalau pola tiduya sudah berubah. Pendeknya, ibu harus peka mengapa si kecil jadi rewel atau susah tidur. Jadi, ibu tak harus selalu menggendong atau mengayunnya. Selanjutnya, agar si kecil bisa tidur, ibu mencoba meninabobokannya dengan memperdengarkan alunan ayat suci al Qur’an lewat kaset murottal. Pasti, deh, si kecil akan merasa tenang dan mudah tidur, lantaran ia merasa ada seseorang yang menemaninya.

- Read More -

Hubungan Autiseme dan Jarak Kelahiran

Dalam sebuah artikel di jurnal Pediatric, anak kedua yang dikandung dalam setahun kelahiran saudara mereka yang lebih tua, tiga kali lebih mungkin terdiagnosa autisme daripada saudara yang dikandung dalam waktu lebih dari tiga tahun, setelah saudara mereka dilahirkan.

Peneliti melihat catatan bayi yang lahir di California antara tahun 1992 dan 2002 dan meneliti kemungkinan autisme lebih dari 660.000 anak-anak yang kedua. Mereka menemukan, kehamilan yang lebih lanjut, cenderung lebih rendah berisiko autisme pada anak kedua jika jaraknya lebih dari tiga tahun.

Dibandingkan dengan anak yang dikandung lebih dari tiga tahun setelah saudara tertua mereka dilahirkan, anak yang dikandung 12 bulan hingga 23 bulan setelah kelahiran sebelumnya, dua kali lebih mungkin terdiagnosa autisme dan anak yang dikandung setelah 24 bulan hingga 35 bulan adalah satu hingga seperempat lebih mungkin terdiagnosa.

Penulis penelitian ini mengaku tidak tahu mengapa waktu kehamilan dan autisme dihubungkan, tetapi mereka menyarankan beberapa faktor yang mungkin dapat disalahkan, meskipun mereka tidak mengujinya. Beberapa penyebab yang dimungkinkan adalah tingkat nutrisi yang habis, seperti folat dan besi, dan tingkat stres yang lebih tinggi. Hasil yang dicatat berat lahir rendah, kelahiran prematur, dan usia orangtua, artikel itu mengatakan.

Temuan ini sangat penting karena jumlah bayi yang lahir dalam waktu dua tahun dari saudara mereka meningkat, naik dari 11 persen pada tahun 1992 menjadi 18 persen pada tahun 2002.

Sebelum adanya penelitian seperti ini, al-Quran pernah mengingatkan dalam Surat Al-Baqarah: 233, yang artinya berbunyi: “Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf…”

Ayat ini, diyakini sebagai batasan melahirkan dalam Islam. Di mana sekurang-kurangnya dua tahun setelah kelahiran saudara tertua.
Sumber : hidayatullah

- Read More -

Pijat Bayi Solusi Ampuh Untuk Bayi Kolik


Setiap orang tua yang memiliki anak yang terkena kolik akan tahu bahwa hampir tidak ada rasa sakit yang sakitnya seperti itu. Respon fisik dan tangis bayi untuk masalah ini bisa sangat melelahkan bagi orang tua dan pada sebagian orang tua terutama “ibu baru” akan sangat sulit untuk mengambila tindakan guna mengatasi dan meredakan rasa sakit yang dialami oleh bayi apalagi ditambah ketidak tahuan tentang masalah yang sedang dialami oleh bayi terkasihnya serta banyaknya saran dan pendapat dari orang – orang sekitar yang bias saja membuat seorang “ibu baru” menjadi bertambah kepanikannya

Perlu diketahui bahwa sesungguhnya tidak ada orang yang benar – benar tahu dan faham tentang peyakit kolik ini termasuk penyebab dan gejalanya. Sepintas kelihatannya adalah terjadinya permasalahan pada usus dan masuk angin. Tetapi itu bukan satu – satunya penyebab bahkan para medis pun sesunguhnya belum tahu tentang penyebab sakit kolik yang menyebabkan bayi menagis sampai tiga jam menangis tampa henti dalam sehari, bahkan ada yang berlanjut selama lebih dari tiga atau empat hari dalam seminggu. 

Banyak orang tua secara naluriah menggosok badan anak-anak mereka ketika mereka sakit dengan berbagai minyak yang mampu menghagatkan tubuh. Sedikit membantu memang, tapi kita semua juga tahu bahwa satu – satunya cara untuk mengatasi dan mengurangi penderitaan bayi akibat penyakit kolik ini adalah dengan melakukan pijat bayi. 

Hal ini sama seperti kita perlu untuk memijat kaki kita ketika kita mendapatkan kram, bayi membutuhkan stimulasi fisik sehingga gerakan aliran darah dan angin dapat diperbaiki. Pada kasus kolik pada bayi, ibu sebaiknya segera menghubungi dan meminta bantuan pemijat bayi professional dan tentunya dapat dipercaya untuk secara intens mengatasi penderitaan bayi anda sampai hilang sepenuhnya

Memberikan pijatan yang mengalir dari kepala sampai ke jari kaki merupakan suatu bentuk stimulus untuk memberikan efek menenangkan karena kontak kulit ke kulit dengan orangtua dan atau pengasuh mereka terbukti mampu meberikan ketenagan bagi bayi yang menderita sakit. 

Sebuah teknik terutama untuk orang tua dari bayi kolik adalah pijat perut yaitu dengan menggosok perut bayi dengan lembut dengan gerakan melingkar dibawah tulang rusuk. Gerakan in akan mendorong kelancaran proses pencernaan makanan dalam tubuh bayi

Dengan menguasai dasar – dasar tekhnik pijat bayi terbukti telah meberikan keuntungan lebih dari sekedar membantu mengatasi masalah – masalah darurat pada bayi. Lebih dari itu seorang ibu yang menguasi tekhnik pijat bayi dengan baik terbukti mampu membantu seorang ibu yang mengalami depresi pasca melahirkan dan bayinya karena proses ikatan emosi dapat diperkuat dengan keintiman yang disalurkan melalui pijatan.

Selain itu, melalui ikatan emosi yang kuat yang dikembangkan melalui pijatan secara alami dapat mencegah gangguan perilaku anak di kemudian hari, dan bahwa stimulasi yang diberikan pada otot yang secara rutin mendapat pijatan telah memperlihatkan bukti ketika anak-anak belajar duduk dan bahkan berjalan lebih cepat dibading anak seusianya.

Jadi tidak ada yang salah jika sebagai orang tua, ibu secara serius untuk terlibat dalam pemelajaran dan mengikuti kursus pijat bayi, karena pijat bayi terbukti mampu menjadi solusi akhir yang positif bagi orang tua yang menderita efek dari anak kolik. Meluruskan pola tidur dan mengakhiri kecemasan bayi serta solusi sempurna untuk sejumlah besar penyakit pada masa kanak-kanak.

- Read More -

Inilah Aturan Standar Perintah OrangTua Kepada Anak

Mendidik anak merupakan sebuah pekerjaan yamg membutuhkan keahlian khusus. Setiap orang tua dituntut untuk meyadari dan memahami bahwa tidak ada satu orang pun di dunia ini, termasuk para orang tua yang terlahir dengan kemampuan untuk menguasasi dan memahami seluruh aspek ilmu pengetahuan atau segala hal, tapi setiap orang bisa belajar dan mempelajari bermacam ilmu pengetahuan dan menguasai beberapa keahlian dengan baik sesuai dengan bakat dan kapasitas yang dimilikinya

Kebanyakan orang tua merasa dan cendrung memahami bahwa mereka selalu lebih tahu dan lebih memahami dibanding anak. Orang tua seperti ini cendrung memposisikan anak dalam kondisi tertekan dibawah bayang – bayang pemikiran orang tuanya sendiri. 

Orang tua cendrung tidak memahami bahwa zaman telah berubah. Dunia pada saat mereka dibesarkan dulu tidak lagi sama dengan masa sekarang dimana anak – anak mereka tumbuh menjadi besar dan suatu saat nanti menjadi dewasa pada masanya kelak dan pastinya masa itu juga berbeda dengan masa sekarang, masa dimana saat – saat mereka dibesarkan

Beberapa hal berikut ini, dapat dijadikan acuan dan pedoman yang bisa dipahami oleh para orang tua dalam memberikan perintah dan menetapkan aturan terhadap anak, dengan harapan anak dengan senang hati dan berkesadaran mau dan rela mengikuti setiap perintah dan aturan tersebut sebagaimana seharusnya :
  1. Jangan meremehkan anak - Dalam beberapa hal, anak dapat memahami lebih dari apa yang dipikirkan orang tua. Orang tua harus memberikan kesempatan lebih kepada anak untuk membuktikan apa yang dia bisa. Biarkanlah anak melaksanakan perintah yang diberikan dengan cara dan pemikiran mereka sendiri. Buatlah mereka yakin bahwa anda mempercayainya dan bimbinglah mereka untuk tetap menjaga kepercayaan yang telah anda berikan. Berpikir buruk tentang mereka hanya akan merusak diri dan jiwa anda sendiri dan sekaligus juga akan merusak perkembangan anak.
  2. Jangan menggunakan ancaman – Cinta dan acaman adalah dua hal yang saling bertolak belakang. Orang tua yang mencintai anaknya tidak akan pernah mengancam anak, sebab ketika menerima dan mendapat acaman, anak akan cendrung memahami sebagai sebuah tantangan yang harus ditaklukan. Anak yang mendapat ancaman dalam proses pendewasaannya akan selalu memakai aneka cara berbohong untuk terbebas dari ancaman itu dan sebagai pembuktian bahwa dia bisa dan mampu lolos dari hukuman 
  3. Jangan menyogok dan menyuap – Jika orang tua biasa membujuk anak untuk belajar dengan memberikan sejumlah uang, artinya orang tua sudah memberikan pemahaman yang salah tetantang pentingnya belajar bagi anak. Anak juga akan gagal memahami akan arti pentinya belajar untuk diri dan masa depannya. Anak akan memahami bahwa uang lebih penting dari belajar atau uang adalah segala – galanya. Dengan uang semua beres karena semua bisa dibeli dengan uang
  4. Jangan menuntut anak untuk berjanji – Orang tua yang bijak paham betul bahwa anak tidak akan bisa menepati janji sebagaimana yang telah dia ucapkan. Dengan memaksa seorang anak untuk berjanji, maka artinya sama dengan orang tua sudah memaksa anak untuk berbohong karena dia tidak akan pernah mampu untuk melaksanakan janjinya itu
  5. Jangan terlalu mengekang - Untuk tumbuh secara normal anak-anak membutuhkan beberapa ruang, beberapa kesempatan dan beberapa kebebasan untuk mengekspresikan diri dan mendapatkan pengakuan serta anaka pengalaman yang berguna untuk masa depannya kelak. Berikanlah anak ruang yang cukup untuk tumbuh dan berkembang dibawah pengawasan dan bimbingan moral dan akhlak serta kepercayaan yang bertanggungjawab dari orang tuanya
  6. Jangan menggunakan kata-kata yang kasar dan berlebihan – Orang tua harus mampu menjaga dan menyampaikan ide dan gagasannya secara simple dan sesederhana mungkin, sehingga lebih mudah untuk dipahami anak. Jika perlu pakailah kosa kata yang sudah umum dipakai anak, sehingga proses komunikasi menjadi lebih menyambung dua arah
  7. Jangan mengharap kepatuhan dan ketaatan instan - Anak harus belajar untuk berpikir, kenapa dia harus melaksanakan dan atau tidak melaksanakan suatu perintah. Orang tua harus memberi bimbingan yang cukup dan alasan yang jelas serta masuk akal 
  8. Jangan terlalu memanjakan anak – Orang tua harus mampu memberikan dan mengungkapkan kasih sayangnya secara pantas dan wajar agar kasih sayang itu tidak berubah menjadi bentuk pemanjaan terhadap anak. Pemanjaan hanya akan mengakibatkan hilangnya kompentensi anak yang seharusnya tumbuh dan berkembang sesuai dengan usianya 
  9. Jangan berkompromi terhadap aturan permainan – anak harus dididik dan diajari untuk selalu berbuat jujur dan menjauhi sifat curang. Dalam bermain, orang tua dan anak harus mampu penghormatan aturan dan kesepakatan awal dalam setiap permainan yang dimainkan 
  10. Jangan memaksakan aturan yang sama untuk semua usia anak - Anak adalah anak – anak, bukan manusia dewasa dalam ukuran mini. Anak mempunyai jiwa dan kesanggupan yang berbeda sesuai dengan tingkatan umurnya. Sebuah aturan yang ditetapkan bisa jadi terlalu mudah pada satu anak dan menjadi terlalu berat bagi anak yang lain 
  11. Jangan membangun sekat fisikologis – Orang tua harus selalu berusaha untuk berlaku adil pada setiap anak, sehingga tidak ada anak yang merasa lebih diistimewakan dan sementara anak yang lain merasa diabaikan. Pahamilah bahwa setiap anak itu istimewa dengan segenap kelebihan dan kekurangannya dan tidak ada manusia diciptakan sempurna, termasuk orang tuanya sendiri 
  12. Jangan melupakan tugas yang sudah diberikan – ketika orang tua memberikan suatu perintah kepada anak, maka orang tua harus serius dengan perintahnya itu dan meminta pertanggungjawaban hasil dari pelaksanaan perintah itu. Orang tua tidak boleh secara langsung mengambil alih tugas yang sudah diberikan kepada anak agar anak tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang bertanggungjawab. 
Semua " perintah untuk orang tua " ini bukan berarti hanya terbatas dipahami oleh orang tua saja, tetapi harus juga dipahami oleh para guru yang diaplikasikan dalam strategi pendidikan yang mengacu kepada perkembangan dan pertumbuhan fisik dan emosi anak sebagai generasi masa depan

- Read More -